saat ku terdiam di atas atap awan putih,, angin berhembus kencang menampar diriku yang sedang menikmati indahnya langit biru, burung-burung mengusirku kemudian mencakar pipiku agarku lekas pergi dari langit. mereka menyuruhku untuk berpijak di bumi, saat aku telah melayang jauh tentu aku tak mau untuk kembali kedasar.. lalu kumenatap keatas,, ku lihat jalan yang ku tempuh buntu dan ku sadar mereka bukan mengusirku tapi mereka memberiku isyarat untuk memulainya kembali dari awal. memilih jalan yang berujung pada akhir cerita hidupku, yang tak buntu dan terputus ditengah-tengah.
Aku bermimpi... Sebuah bunga tidur yang terasa nyata, ketika itu aku ada di sebuah tempat yang tak ku ketahui. Sangat asing.. "Mengapa mimpi membawaku kemari?" aku berjalan menyusuri lorong gelap, dan kulihat ada setitik cahaya di depan sana. Di sana ada seseorang, aku tahu itulah cahaya yang kucari. Namun, saat aku mendekat dia redupkan cahayanya kemudian bersembunyi dibalik sebuah jendela. "Mengapa?" gumamku.. Ku ketuk jendela itu, selembar tirai terbuka, aku melihatnya tapi tak ia tampakan cahayanya.. tak ada senyuman "Mengapa?? Apakah sinarnya telah membias?? atau memang tak mau lagi terangi kehidupanku??" aku termenung, dan ketika itu aku terbangun dari mimpi.. aku sadar pada kenyataannya pun telah ada sinar yang meredup semakin meredup, dan yang paling ku takutkan jika nanti sinar itu menghilang takut jika tirai itu tetap tertutup, dan takut jendela itu tak terbuka kembali dan menjadi pembatas sinarmu padaku
Sebenarnya aku lebih menyukai kata dibandingkan angka, "Hahaha.. Kau tersesat dalam tujuanmu sendiri! Bodoh!" Ya mungkin aku memang bodoh, mencoba mencari titik aman dengan angka, namun ternyata berlindung dengan sesuatu yang tak ku sukai bukanlah hal yang gampang, ketika aku mereasa dunia khayal dan imajinasiku terenggut oleh kenyataan dan fakta bahwa sekarang aku berdiri dan berpijak pada suatu ranah yang memaksaku melupakan apa yang sebenarnya aku mampu. Disini aku dipandang sebelah mata, tak ada yang melihatku, ya karena pada dunia ini aku tak memiliki kelebihan yang bisa membuat orang memandangku hormat! Aku merindukan kata, aku merindukan itu, aku merindukan masa dimana aku sering mendebat suatu hal, aku merindukan ketika orang-orang mencariku dan berkata " tolong bantu aku! " , aku rindu pada diriku yang dulu, diriku yang tak pernah ragu untuk berpendapat, berbeda dengan diriku yang sekarang yang lebih banyak memilih untuk diam, ya diam karena aku tak men...
Comments
Post a Comment